Oleh :
A. Fatah Yusuf
Sub Dit. Eksplorasi Mineral Industri dan Batuan
S A R I
Tulisan makalah ini berupa rangkuman dari hasil penyelidikan endapan
fosfat di daerah Madura yang dilakukan oleh Sub Direktorat Eksplorasi Mineral Industri dan Batuan, berlangsung dari tahun 1994 sampai dengan tahun 1999, meliputi Kabupaten Sampang, Pamekasan dan Kabupaten Sumenep.
Kisaran kadar P2O5 di daerah, Sampang 2,28 - 37,09 %, Pamekasan 5,61 - 37,79 %, Sumenep 6,20 % - 44,23 %, dengan jumlah sumberdaya fosfat di daerah Kabupaten, Sampang sekitar 5.000.000 m3, Pamekasan sekitar 23.400 m3, dan di Sumenep sekitar 827.500 m3 .
Berdasarkan kandungan P2O5 endapan fosfat di daerah, Sampang sebagian besar dapat digunakan sebagai pupuk alam, sebagian kecil lagi sebagai bahan baku
pupuk super fosfat (SP36), Pamekasan sekitar 55 % dapat digunakan sebagai
pupuk alam dan sebaian kecil sebagai pupuk super fosfat (SP36). Di daerah Sumenep dapat digunakan sebagai pupuk alam dengan kualitas A sebanyak 22 lokasi (sekitar 48,9 % dari seluruh jumlah lokasi), dengan kualitas C sebanyak 4 lokasi (8,9 %), yang mempunyai mutu I sebanyak 21 lokasi (46,7 %) dan mutu II 4 lokasi (8,9 %), untuk bahan baku pembuatan asam fosfat terdapat sebanyak 11 lokasi (24,4 %), untuk bahan baku pembuatan pupuk SP-36 sebanyak 14 lokasi (31,1 %).
Untuk keperluan tertentu, endapan fosfat di daerah Madura perlu mengalami proses benefisiasi baik untuk meningkatkan kadar P2O5 maupun untuk menghilangkan unsur/ senyawa pengotor lainnya sehingga endapan fosfat tersebut memenuhi syarat bagi keperluan tertentu.
Baik sebaran maupun jumlah sumberdaya endapan
fosfat di daerah Madura relatif kecil, dengan demikian penambangannya hanya ekonomis untuk sekala kecil atau tambang rakyat. Untuk menghindari hal - hal yang tidak diinginkan perlu pemantauan dan penataan usaha penambangan bahan galian dalam sekala kecil.